Asah Strategi di Tengah Pandemi: Optimalisasi Teknologi Informasi

0
strategi-di-tengah-pandemi

Semua terhenyak ketika penduduk Wuhan, China, kelimpungan karena sebuah penyakit. Saat itu, Desember 2019, rumah sakit dibanjiri oleh pasien dengan gejala batuk dan sesak nafas yang mirip pneumonia.

Semakin hari, rumah sakit di Wuhan terus dibanjiri orang dengan gejala yang serupa. Sebagiannya bahkan tumbang di jalanan. Hal itu diakibatkan rumah sakit tak lagi muat. Lalu penduduk Wuhan yang berjumlah 9.100.000 jiwa itu dikarantina.

SARS-CoV-2 sang Pemicu Pandemi

Penduduk dunia pun bertambah kelimpungannya karena virus yang pada awalnya disebut Wuhan corona virus ini cepat sekali menyebar. Lewat transportasi yang cepat dan terhubung ala era globalisasi, orang-orang yang terinfeksi membawa virus masuk ke negara lain.

Semua mengambil sikap dengan menutup pintu masuk di bandara dan jalur-jalur tikus antar-negara. Namun sebagaimana diketahui, semuanya terlambat.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kemudian pada pertengahan Maret 2020 menyatakan kasus penyebaran virus ini sebagai pandemi. Wabah penyakit ini secara singkat disebut sebagai Corona Virus Disease 2019 alias COVID-19.

Berdasarkan data dari Wikipedia, virus yang kemudian disebut sebagai SARS-CoV-2 ini telah menginfeksi 4.993.470 orang di seluruh dunia, dengan korban 327.728 orang meninggal dunia.

Pandemi Juga Melanda Negeri Ini

Pada 2 Maret 2020, Pemerintah Republik Indonesia mengonfirmasi bahwa ada masyarakat Indonesia yang terinfeksi. Seorang ibu berusia 64 tahun dan anak perempuannya berusia 31 tahun dinyatakan sebagai pasien positif SARS-CoV-2 dengan sebutan pasien 1 dan pasien 2.

Sejak saat itu, jumlah orang yang teridentifikasi positif pun semakin bertambah. Saat artikel ini ditulis, menurut situs covid19.go.id jumlah orang yang terinfeksi di Indonesia mencapai 20.796 orang, dengan korban meninggal dunia sebanyak 1.326 orang.

Pandemi Mengubah Banyak Hal

Polemik soal lockdown sebagaimana diterapkan di negara lain pun muncul di Indonesia. Berbagai pilihan pun menyeruak, seperti karantina kesehatan dan darurat sipil. Namun akhirnya pilihan jatuh kepada Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diterapkan di berbagai wilayah. Metode karantina ini dimulai dari Jakarta.

PSBB diterapkan demi mengantisipasi pusat episentrum COVID-19 di Indonesia yang berada di Jakarta. Orang-orang dilarang pulang kampung atau mudik karena dikhawatirkan penyebaran SARS-CoV-2 bakal semakin masif. Ditambah lagi sarana kesehatan di daerah belum sebagus Ibukota.

Sebelum PSBB dimulai, banyak aktivitas sosial masyarakat sudah sangat terpengaruh. Banyak hal diubah demi menghindar dari wabah. Prosesi ibadah, pendidikan, perdagangan, komunitas sosial, dan lain sebagainya mulai dikurangi. Di sebagian wilayah memang muncul penolakan, namun sebagian besarnya memahami bahwa ini pandemi.

Perubahan juga terjadi di dunia kerja. Konsep work from home diterapkan demi mengurangi jumlah infeksi akibat kontak di lingkungan kerja. Tapi nasib malang menimpa sebagian yang lain. Sebab alih-alih bekerja dari rumah, mereka malah dirumahkan selamanya.

Berselancar di Tengah Pandemi

Saya pikir pada mulanya PSBB tidak akan diterapkan di daerah saya, Indramayu. Namun pasca munculnya banyak pengangguran baru, penduduk Jakarta mulai eksodus bahkan sebelum PSBB dimulai.

Secara tidak terkendali, mereka pulang ke kampung halaman. Beberapa diantaranya berhasil dideteksi dan diimbau untuk karantina mandiri. Ratusan orang yang berstatus ODP mulai tercatat di grafik Gugus Tugas Covid-19 Indramayu.

Hingga satu ketika, seseorang yang baru pulang dari Batam terkonfirmasi positif Covid-19 yang pertama. Pada saat yang bersamaan, di tingkat provinsi pun jumlah orang yang positif meningkat tajam. Jawa Barat pun akhirnya melaksanakan PSBB.

PSBB ini mulai memangkas banyak hal. Aktivitas sehari-hari sangat terbatas. Di satu sisi kami mesti di rumah, tapi ada usaha yang masih harus terus dijalankan.

Untungnya saya memiliki usaha yang masih boleh beroperasi saat PSBB. Sehingga di tengah pandemi, usaha ini tetap berjalan seperti biasa namun dengan konsep new normal. Ya, memakai masker, selalu membawa hand sanitizer, cuci tangan pakai sabun, dan mendisinfektan tempat usaha jadi kebiasaan baru.

Distribusi Barang Masih Lancar

Saya memiliki usaha produksi air minum dengan mesin reverse osmosis rumahan. Ini sumber nafkah saya selain bekerja di lembaga pemerintah dan menjadi kuli Adsense. Hal ini merupakan kepatuhan saya atas petuah “jangan menyimpan telur didalam satu keranjang”.

Saat pandemi berlangsung, dan banyak orang menjalankan imbauan pemerintah untuk work from home, tiga karyawan saya cukup kewalahan memenuhi tambahan pesanan. Pelanggan yang biasanya datang sambil membawa galon kosong, lebih memilih menghubungi kami dari rumah dan membayar biaya antar.

Peningkatan ini sudah saya prediksi sebelumnya. Oleh karenanya, berbagai kanal teknologi informasi saya optimalkan.

Pemanfaatan Teknologi Informasi

Teknologi informasi memang terkesan canggih, namun percayalah hal ini sebetulnya sangat sederhana. Karyawan saya hanya perlu bergerak cepat untuk membalas setiap pesan di WhatsApp, Facebook Messenger, hingga SMS konvensional. Begitupun dengan panggilan telepon.

Teknologi informasi adalah penggunaan komputer, penyimpanan, jaringan, infrastruktur dan segala prosesnya untuk mengolah, menyimpan, dan mengamankan perubahan segala bentuk data elektronik.

Jadi dalam memanfaatkan teknologi informasi, memang tak harus memiliki ruangan control room yang canggih dengan berbagai komputer mutakhir berspesifikasi tinggi. Penggunaan perangkat teknologi, seperti ponsel, juga sudah termasuk memanfaatkan teknologi informasi.

Untuk menjaring pelanggan dari Google, saya mengaktifkan Google My Business Agen Air Mineral – Air Isi Ulang Zahra RO dan landing page sederhana beralamatkan di Air Minum Indramayu. Hasilnya lumayan, banyak pelanggan baru di kelas menengah yang terjaring menjadi konsumen tetap.

Saya pengin bercerita tentang landing page diatas. Pada mulanya saya memakai domain airindramayu.blogspot.com. Saya menargetkan kata kunci “air minum indramayu”. Kalau dicari dengan “air isi ulang dekat sini”, maka snippet local business yang muncul terlebih dahulu, baru landing page tadi berada dibawahnya.

Lambat laun saya pun mengganti domain blogspot diatas ke air.biz.id agar terlihat lebih profesional. Dan yang penting lebih mudah diingat daripada memakai blogspot. Tapi alasan yang paling utama sih karena sewanya murah. Saya meminangnya lewat Qwords.com dengan harga Rp55.000,00 per tahun. Buat yang pengin, silakan cek domain di situs Qwords langsung ya.

Teknologi Informasi Membuka Lebih Banyak Kesempatan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here