Saturday, December 4, 2021

Dear Ayah-Bunda, Kenali Manfaat eSport Buat Anak Anda

Kopitekno.com – Tahukah Anda siapa Kenny Deo? Buat yang tidak mengikuti berita game, tentu nama itu akan terasa asing. Apalagi sebutan Xepher, yang kerap disematkan di tengah namanya.

Ya, Kenny “Xepher” Deo. Seorang pemuda kelahiran 23 Juni 1996, yang bermain untuk T1, sebuah tim Dota 2 yang berlaga di turnamen The International 10 (TI10). Popularitasnya menanjak seiring viralnya kutipan wawancara “Mama aku di TI” pekan ini.

Buat yang belum mengetahui kutipan wawancara tersebut, silakan googling saja dengan kata kunci ‘kenny xepher deo’, ‘mama aku di TI’, atau ‘xepher the international 10’. Ribuan artikel akan menjelaskannya.

Saya hanya mengulas sisi lain dari fenomena Xepher dan kawan-kawannya. Sebab Xepher memang bukanlah sosok tunggal. Ia menjadi gelombang bersama ratusan, bahkan ribuan pemuda sejenisnya.

Gelombang yang bila tidak dikenali oleh generasi boomer, bahkan milenial diatas usia Xepher, maka negeri ini mungkin saja hanya akan menjadi penonton.

Transformasi Game: Dari Iseng ke Prestasi

Xepher merupakan salah satu pemain Dota 2 yang bertransformasi dari sebutan gamer menjadi pro-player. Sebutan “pro” yang merujuk pada kata professional ini berarti seorang gamer yang mampu menghasilkan uang dari aktivitasnya bermain game.

Uang yang dihasilkan pun jumlahnya tak main-main. Xepher contohnya. Saat ini ia sudah mengantongi $150.000 atau sekitar Rp2,1 miliar lewat TI10.

Bahkan menurut berbagai data, Xepher hanya berada di urutan kelima. Ada Made Bagas Pramudita, seorang pemain PUBG Mobile yang populer dengan sebutan Zuxxy. Kalkulasi penghasilan dari bermain game-nya sudah mencapai $156.000 atau setara dengan Rp2,19 miliar.

Di puncak daftar itu ada Hansel Ferdinand, seorang pemain Counter-Strike: Global Offensive yang terkenal dengan nama BnTeT. Ia berhasil mengantongi $171.683 atau sekitar Rp2,4 miliar dari game yang dimainkannya.

Tren kemudian berkembang. Saat dunia digital merambah berbagai sektor, maka dunia game pun masuk ke ranah olahraga. Ranahnya prestise dan prestasi. Tren game yang semula sekadar pengisi waktu luang, kini bisa membunyikan lagu kebangsaan di ajang olahraga internasional, lewat cabang olahraga eSport.

Dalam sebuah acara daring yang dihelat Indihome pada Jum’at (15/10), Dyah Rasyida, Srikandi Gamer IndiHome, memberikan penjelasan bahwa meskipun tidak mengeluarkan keringat, eSport tetap masuk sebagai cabang olahraga. Hal yang sama, tambahnya, sudah diterapkan pada catur, dan sejenisnya.

“ESport memang tak mengeluarkan banyak keringat. Namun disana ada adu strategi, ketangkasan, kekompakan tim, dan kompetisi, yang setara dengan olahraga lainnya,” terang Dyah.

Jalan Terang Jadi Atlet eSport

Dyah juga menjelaskan IndiHome sendiri punya kawah candradimuka guna melatih gamer menjadi atlet eSport. Namanya LEAD yang memiliki kepanjangan Limitless eSport Academy.

LEAD secara resmi sudah dirilis pada Jumat (11/9) bulan kemarin. Dukungan dari berbagai pihak sudah mengalir, seperti dari KONI dan PBESI. Saat ini LEAD masih membuka kesempatan bergabung hingga 22 Oktober 2021 mendatang.

Setelah mendaftar, gamer akan diuji terlebih dahulu lewat kompetisi. Kompetisi ini merupakan babak kualifikasi yang menjaring gamer untuk masuk ke pembinaan tahap pertama.

Mereka yang telah dibina di tahap 1 akan diuji lagi dalam ujian penyaringan untuk masuk ke pembinaan tahap 2. Sehingga didapatkan gamer yang lolos menjadi atlet eSport LEAD. Para gamer yang lolos tahap akhir atau tahap Graduation ini akan mewakili LEAD di berbagai turnamen.

Pertanyaannya, mengapa akademi semacam LEAD ini penting?

Head Coach LEAD, Henov, menyebut prinsip athlete enablement untuk menjawab pertanyaan semacam itu. Prinsip ini mengubah gamer dan pro-player biasa memiliki jiwa seorang atlet.

Menurut Henov, athlete enablement adalah sebuah prinsip dimana seorang atlet eSport dilatih mentalnya untuk berpikir, bertindak, dan mengambil keputusan selayaknya atlet olahraga konvensional lainnya. Sebagai atlet, maka seluruh gamer di akademi eSport ini akan diajak untuk berlatih tanpa batas, mencapai yang teratas.

Wujudkan Impian Jadi Gamer Berprestasi

Selama ini memang ada yang menganggap jadi gamer itu buruk. Kadang-kadang dicap asosial, menghambur-hamburkan waktu, tenaga, dan uang.

Padahal bedanya apa dengan bermain catur, bridge, maupun permainan lain yang tak mengeluarkan keringat dan sudah dianggap sebagai olahraga?

Dengan bermain game, seorang anak berpotensi untuk menjadi pro-player dan berprestasi mengharumkan nama bangsa dan negara. Asalkan ia mendapat tempat berlatih yang baik seperti akademi eSport LEAD by IndiHome ini.

Ditambah lagi sekarang ada paket games dari IndiHome. Wujudkan dari rumah impian Ananda dengan memilih satu dari tiga paket games yang ditawarkan dalam IndiHome Paket Gamer.

Silakan sesuaikan paket games ini dengan kebutuhan Anda. Mulai dari up to 20 Mbps, 50 Mbps, dan 100 Mbps. Ada benefit yang bisa diambil untuk belasan game populer jika berlangganan paket ini.

Penutup

Dari Kenny Deo, kita semua bisa belajar bahwa menjadi gamer punya potensi yang cerah. Asalkan ia mendapatkan dukungan seperti paket games dari IndiHome ini, serta bimbingan yang baik seperti LEAD by IndiHome.

Bukan tak mungkin, di ajang internasional yang bergengsi, ada Ananda beberapa tahun kemudian yang menyebut Anda, Ayah-Bundanya dalam sebuah wawancara bergengsi. “Ayah-Bunda, aku di TI. Doakan ya,” misalnya. Atau dilain waktu Ananda dikalungi medali emas dan lagu Indonesia Raya berkumandang. Bisa dibayangkan rasanya, ‘kan?

Artikel Terkait

21 COMMENTS

  1. Ternyata esport bisa menghasilkan uang sebanyak itu ya, Kak. Emang sih. Segala sesuatu harus dikerjakan dengan fokus agar bisa maksimal hasilnya. Termasuk urusan game ini. Meski kelihatannya hanya “sekedar” game. Tapi nyatanya bisa membuat ahlinya mendapatkan banyak duit.

  2. Indihome paket gamer, penawaran baru nih ya dari Indihome.
    Jadi gamer sekarang ini memang tak hanya memberikan kesenangan, bagi yang ngerti jalannya, bisa jadi sumber penghasilan

  3. Aku habis nonton drama China ‘Gank Your Heart’ gak berani lagi anggap remeh atlet e-sport. Mereka itu totalitas banget dan orang-orang pintar semua isinya. Daaaan, mereka itu disiplin sekali, gak seperti kesan awal kebanyakan orang bahwa gamer itu suka begadang, bangun siang, trus seharian kerjanya main game doang. Kalo udah jadi atlet esport, mereka itu justru harus rajin olah raga, gak boleh begadang, dan harus rajin bangun pagi, plus nutrisi tercukupi. Pokoknya profesional banget lah bang.

  4. Kalaunmain game diseiusin jadi berprestasi juga ya. Cita-cita jadi gamer pun punya potensi yang cerah. Saatnya nih beli paket games dari IndiHome dan dapat bimbingan LEAD by IndiHome. Keren

  5. Banyak orang tua yang sekarang tidak ragu untuk menghantarkan anak-anaknya untuk menjadi atlet e-Sport. Dan e-Sport ini menurut saya prospek ke depannya akan bagus. Bahkan pak Jokowi beberapa tahun lalu mendukung game online ini diturnamenkan secara nasional.

  6. sudah saatnya emang kita mendukung minat dan bakat anak, selagi itu positif dan bisa mengembangkan dirinya ya.
    apalagi di jaman teknologi yang super canggih gini, e-Sport ini sangat menjanjikan dong pastinya.
    saya auto googling dong tadi karena gak ngeh maksudnya, dan duuhh pasti Mamanya Kenny Deo bangga dong lihat kesuksesan anaknya 🙂

  7. Sejak dunia digital berkibar sangat meriah, maka pandangan orang tentang jenis pekerjaan bukan lagi hanya terpaku pada jenis pekerjaan konvensional. Sekarang anak milenia memiliki lapangan pekerjaan yang sangat luas, tentu saja dengan saingan yang makin banyak.

  8. Kalau yang namanya renjana kemudian dijadikan suatu yang diseriusin, maka hasilnya akan wow. Apalagi e-sport saat ini sedang berkembang. Semoga Indonesia juga semakin maju lagi di bidang ini, aamiin

  9. Dulu emang sih kalau lihat yang ngegame mulu bawannya jadi sensi. Tapi sekarang kalau bisa diarahkan seperti atlet e-sport maka bisa jadi akan menjadi pro-player yah. Bener emang ngga ngeluarin keringat, tapi tetp adu strategi dan ketangkasan.

  10. Saya pribadi nggak paham game, dan gak suka nge-game sejak jaman game jadul dulu kala. Tapi anak-anak saya kan anak jaman now ya, dan mereka hobi banget nge-game. Jadi, mau tak mau saya mulai update tentang dunia esport dan manfaatnya untuk anak gen Z. Sempat gak percaya dan terkagum-kagum dengan prestasi gamer kita. Ternyata anggapan game unfaedah sudah nggak relevan lagi sejak gamer pro mulai bermunculan dan mendulang prestasi.

  11. Dari hobi sekadar iseng pengisi waktu kosong, kl diseriusi bisa jadi pemain gim profesional ya Bang,, bisa jadi atlet eSport ya ikut turnamen Mobile Legend atau lomba Pubg yahh…

  12. Wah game jaman sekarang sudahbisa menghasilkan dan masuk ke ranah olahraga cabang e-sport juga ya. Bisa jadi profesi, yang bahkan udah ada tempat pelatihannya seperti akademi eSport LEAD by IndiHome ya. Hummm baru tahu saya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Berita Terkini