Tips  

Dear Ayah-Bunda, Kenali Manfaat eSport Buat Anak Anda

manfaat esport

Kopitekno.com – Tahukah Anda siapa Kenny Deo? Buat yang tidak mengikuti berita game, tentu nama itu akan terasa asing. Apalagi sebutan Xepher, yang kerap disematkan di tengah namanya.

Ya, Kenny “Xepher” Deo. Seorang pemuda kelahiran 23 Juni 1996, yang bermain untuk T1, sebuah tim Dota 2 yang berlaga di turnamen The International 10 (TI10). Popularitasnya menanjak seiring viralnya kutipan wawancara “Mama aku di TI” pekan ini.

Buat yang belum mengetahui kutipan wawancara tersebut, silakan googling saja dengan kata kunci ‘kenny xepher deo’, ‘mama aku di TI’, atau ‘xepher the international 10’. Ribuan artikel akan menjelaskannya.

Saya hanya mengulas sisi lain dari fenomena Xepher dan kawan-kawannya. Sebab Xepher memang bukanlah sosok tunggal. Ia menjadi gelombang bersama ratusan, bahkan ribuan pemuda sejenisnya.

Gelombang yang bila tidak dikenali oleh generasi boomer, bahkan milenial diatas usia Xepher, maka negeri ini mungkin saja hanya akan menjadi penonton.

Transformasi Game: Dari Iseng ke Prestasi

Xepher merupakan salah satu pemain Dota 2 yang bertransformasi dari sebutan gamer menjadi pro-player. Sebutan “pro” yang merujuk pada kata professional ini berarti seorang gamer yang mampu menghasilkan uang dari aktivitasnya bermain game.

Uang yang dihasilkan pun jumlahnya tak main-main. Xepher contohnya. Saat ini ia sudah mengantongi $150.000 atau sekitar Rp2,1 miliar lewat TI10.

Bahkan menurut berbagai data, Xepher hanya berada di urutan kelima. Ada Made Bagas Pramudita, seorang pemain PUBG Mobile yang populer dengan sebutan Zuxxy. Kalkulasi penghasilan dari bermain game-nya sudah mencapai $156.000 atau setara dengan Rp2,19 miliar.

Di puncak daftar itu ada Hansel Ferdinand, seorang pemain Counter-Strike: Global Offensive yang terkenal dengan nama BnTeT. Ia berhasil mengantongi $171.683 atau sekitar Rp2,4 miliar dari game yang dimainkannya.

BACA JUGA:  Makna Sportivitas dan Penerapannya dalam eSport

Tren kemudian berkembang. Saat dunia digital merambah berbagai sektor, maka dunia game pun masuk ke ranah olahraga. Ranahnya prestise dan prestasi. Tren game yang semula sekadar pengisi waktu luang, kini bisa membunyikan lagu kebangsaan di ajang olahraga internasional, lewat cabang olahraga eSport.

Dalam sebuah acara daring yang dihelat Indihome pada Jum’at (15/10), Dyah Rasyida, Srikandi Gamer IndiHome, memberikan penjelasan bahwa meskipun tidak mengeluarkan keringat, eSport tetap masuk sebagai cabang olahraga. Hal yang sama, tambahnya, sudah diterapkan pada catur, dan sejenisnya.

“ESport memang tak mengeluarkan banyak keringat. Namun disana ada adu strategi, ketangkasan, kekompakan tim, dan kompetisi, yang setara dengan olahraga lainnya,” terang Dyah.

Jalan Terang Jadi Atlet eSport

Dyah juga menjelaskan IndiHome sendiri punya kawah candradimuka guna melatih gamer menjadi atlet eSport. Namanya LEAD yang memiliki kepanjangan Limitless eSport Academy.

LEAD secara resmi sudah dirilis pada Jumat (11/9) bulan kemarin. Dukungan dari berbagai pihak sudah mengalir, seperti dari KONI dan PBESI. Saat ini LEAD masih membuka kesempatan bergabung hingga 22 Oktober 2021 mendatang.

Setelah mendaftar, gamer akan diuji terlebih dahulu lewat kompetisi. Kompetisi ini merupakan babak kualifikasi yang menjaring gamer untuk masuk ke pembinaan tahap pertama.

Mereka yang telah dibina di tahap 1 akan diuji lagi dalam ujian penyaringan untuk masuk ke pembinaan tahap 2. Sehingga didapatkan gamer yang lolos menjadi atlet eSport LEAD. Para gamer yang lolos tahap akhir atau tahap Graduation ini akan mewakili LEAD di berbagai turnamen.

Pertanyaannya, mengapa akademi semacam LEAD ini penting?

Head Coach LEAD, Henov, menyebut prinsip athlete enablement untuk menjawab pertanyaan semacam itu. Prinsip ini mengubah gamer dan pro-player biasa memiliki jiwa seorang atlet.

BACA JUGA:  Daftar Negara dengan Internet Kencang, Indonesia Urutan Berapa?

Menurut Henov, athlete enablement adalah sebuah prinsip dimana seorang atlet eSport dilatih mentalnya untuk berpikir, bertindak, dan mengambil keputusan selayaknya atlet olahraga konvensional lainnya. Sebagai atlet, maka seluruh gamer di akademi eSport ini akan diajak untuk berlatih tanpa batas, mencapai yang teratas.

Wujudkan Impian Jadi Gamer Berprestasi

Selama ini memang ada yang menganggap jadi gamer itu buruk. Kadang-kadang dicap asosial, menghambur-hamburkan waktu, tenaga, dan uang.

Padahal bedanya apa dengan bermain catur, bridge, maupun permainan lain yang tak mengeluarkan keringat dan sudah dianggap sebagai olahraga?

Dengan bermain game, seorang anak berpotensi untuk menjadi pro-player dan berprestasi mengharumkan nama bangsa dan negara. Asalkan ia mendapat tempat berlatih yang baik seperti akademi eSport LEAD by IndiHome ini.

Ditambah lagi sekarang ada paket games dari IndiHome. Wujudkan dari rumah impian Ananda dengan memilih satu dari tiga paket games yang ditawarkan dalam IndiHome Paket Gamer.

Silakan sesuaikan paket games ini dengan kebutuhan Anda. Mulai dari up to 20 Mbps, 50 Mbps, dan 100 Mbps. Ada benefit yang bisa diambil untuk belasan game populer jika berlangganan paket ini.

Penutup

Dari Kenny Deo, kita semua bisa belajar bahwa menjadi gamer punya potensi yang cerah. Asalkan ia mendapatkan dukungan seperti paket games dari IndiHome ini, serta bimbingan yang baik seperti LEAD by IndiHome.

Bukan tak mungkin, di ajang internasional yang bergengsi, ada Ananda beberapa tahun kemudian yang menyebut Anda, Ayah-Bundanya dalam sebuah wawancara bergengsi. “Ayah-Bunda, aku di TI. Doakan ya,” misalnya. Atau dilain waktu Ananda dikalungi medali emas dan lagu Indonesia Raya berkumandang. Bisa dibayangkan rasanya, ‘kan?

No ratings yet.
BACA JUGA:  4 Cara Cek Nomor Internet Indihome via Struk, Aplikasi, dll

Please rate this