Hoax Ternyata Meningkat Jelang Pemilu 2019

0

Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) merilis hasil laporan yang cukup mencengangkan. Komunitas yang memfokuskan diri dalam pemberantasan informasi palsu atau yang kerap disebut hoax ini merilis data ihwal hoax yang ternyata eskalasinya meningkat jelang pemilihan umum tahun 2019.

Kampanye “Stop Hoax” oleh Mafindo. (Gambar: Katadata)

Jumlah hoax yang berhasil didata dan diverifikasi sebagai hoax oleh Mafindo sejak 2018 sampai dengan Januari 2019 cukup banyak. Jumlah hoax pada tahun 2018 mencapai 997 hoaks dan 488 hoax (49,94%) diantaranya bertema politik. Dari 488 hoaks tersebut, Mafindo mencatat terdapat 259 hoax dengan tema politik sejak Juli sampai dengan Desember 2018. Sedangkan jumlah hoax pada bulan Januari 2019, sebesar 109 buah dengan 58 hoaks diantaranya bertema politik.

Ketua Mafindo, Septiaji Eko Nugroho, mengatakan bahwa meningkatnya jumlah hoax dengan tema politik yang berhasil kami verifikasi sebagai hoax atau disinformasi, berpotensi mengancam kualitas pesta demokrasi terbesar dalam sejarah bangsa Indonesia.

“Ia tak hanya akan merusak akal sehat calon pemilih, namun juga mendelegitimasi proses penyelenggaraan pemilu, dan lebih parahnya mampu merusak kerukunan masyarakat yang mengarah perpecahan bangsa,” ungkap Septiaji dalam keterangan persnya.

Lebih jauh Septiaji mengungkapkan bahwa 259 hoax dengan tema politik sejak Juli-Desember 2018 tesebut menyasar kepada Pasangan calon Presiden dan Wapres nomor urut 01 dengan 75 hoax atau sebesar 28,96%, Pemerintah (Kementerian atau Lembaga) 60 hoax atau sebesar 23,16%, Figur terkemuka 57 hoaks atau sebesar 22,01 %, Pasangan calon Presiden dan Wapres nomor urut 02 dengan 54 hoaks atau sebesar 20,85%, Parpol dengan 9 hoaks atau sebesar 3,48% %, Pemda sebesar 4 atau sebesar 1,54%.

Sedangkan pada bulan Januari 2019, jumlah hoax mencapai 109 buah dengan hoax politik mendominasi sebesar 58 buah disusul oleh hoax ‘lain-lain’ 19 buah dan hoax kriminalitas sebanyak 7 buah. Adapun 58 hoax politik tersebut menyasar kepada Paslon 02 sebesar 21 hoaks atau sebesar 36,20 %, Paslon 01 sebesar 19 hoax atau sebesar 32,75 %, Pemerintah K/L sebesar 8 hoax atau sebesar 13,79 %, Figur terkemuka sebesar 7 hoaks atau sebesar 12,06 %, Parpol dengan 3 hoax atau 5,17 %, sementara Pemda Nihil.

Dampak Kerusakan Akibat Hoax

Septiaji memberikan catatan bahwa jumlah angka hoax politik yang tertera tersebut belum mencerminkan dampak atau tingkat kerusakannya. Ada hoax yang bisa lebih merusak ketimbang hoax yang lain. Demikian juga jenis hoax yang menyasar sebuah kelompok, ada yang jenis hoax positif yang bisa jadi dibuat oleh pendukungnya sendiri.

Ketua Mafindo ini menyebut tren kenaikan jumlah penyebaran hoax ini memprihatinkan, karena ruang publik khususnya di media sosial dan group percakapan lebih banyak diisi dengan perdebatan kosong dengan topik hoax daripada adu argumen tentang program ataupun topik lain yang lebih substansial.

“Kami memohon agar meningkatnya jumlah hoax ini harus diantisipasi oleh para politisi. Jangan sampai malah dimanfaatkan untuk menambah keuntungan secara elektoral,” tambah Septiaji.

Mafindo juga mencatat sejak Juli hingga Desember 2018, Facebook masih menjadi sarana penyebaran hoaks yang paling dominan diikuti oleh WhatsApp dan Twitter.

Santi Indra Astuti, Ketua Komite Litbang Mafindo, menjelaskan bahwa semester II tahun 2018 bentuk hoaks yang paling banyak adalah gabungan antara foto/narasi sebesar 45,25% diikuti oleh narasi saja sebesar 30,63% dan video/narasi sebesar 14,22%.

“Namun kita melihat pada bulan Januari 2019, komposisinya sedikit berubah dengan 34,86% berupa narasi saja, kemudian gabungan foto/narasi sebanyak 28.44% dan video/narasi sebanyak 17.43%. Kenaikan jumlah hoaks berbentuk video, mengindikasikan kian canggihnya bentuk hoaks yang beredar di masyarakat,” jelas Santi.

Septiaji meminta masyarakat harus memahami bahwa hoaks itu berbahaya bagi masa depan bangsa. Menurutnya masyarakat juga harus memiliki kemampuan untuk memilah dan memilih mana berita yang benar dan yang keliru.

“Solusinya masyarakat mesti melek literasi agar ketahanan di dunia digital bisa lebih baik,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here