Mengenal Cloud Gaming, Akhir Era Console

0
google-stadia

Saat Google merilis Google Stadia dan GeForce melansir GeForce Now, cloud gaming semakin menemukan bentuknya. Setelah satu dekade berjalan dan disambut dengan baik, cloud gaming ini semakin berkembang. Akankah era gaming console mulai berakhir?

cloud gaming
Google Stadia console.

Sudah sejak lama game console dan game PC merajai industri gaming. Kedua produsen game tersebut beberapa tahun kebelakang mulai berbenah dengan menghadirkan game yang dimainkan secara online, tanpa perlu beli CD maupun menginstal software-nya. Namun cloud gaming lebih dari itu.

Apa Itu Cloud Gaming?

cloud gaming

Cloud gaming bisa disebut juga game streaming. Mekanisme yang berjalan pada cloud gaming adalah penggunaan server terpusat yang dijalankan bersama-sama. Sehingga para pemain tidak perlu melakukan instalasi software maupun memiliki CD game-nya.

Imbasnya para pemain hanya memerlukan sebuah peralatan komputasi, layar, dan koneksi internet. Tiga hal yang pasti ditemukan di ponsel pintar saat ini. Itulah mengapa cloud gaming cepat sekali berkembang dan digemari banyak orang.

Sudah tak terhitung lagi berapa banyak pengembang game yang mulai memindahkan bisnisnya ke sistem ini.

Ada dua hal besar yang menjadi keuntungan dari cloud gaming dan menjadi alasan yang paling masuk akal mengapa game jenis ini ceat berkembang.

Pertama, pengguna alias si gamer tak perlu melakukan pembelian CD terbaru demi mendapatkan update. Mereka juga tak perlu menginstal atau membeli software terbaru kalau bermain di PC.

Dan kedua, yang sudah disinggung diatas, jenis gaming ini lebih adaptif dan memiliki portabilitas yang cukup baik. Sehingga bisa dimainkan dimanapun selama koneksi internet bagus.

Itulah kenapa saat koneksi internet dari hari ke hari semakin baik, clod gaming pun bak cendawan di musim penghujan. Ia tumbuh subur dan ditemui dimana-mana.

Bagaimana Cloud Gaming Bekerja?

Sudah tak terbantahkan kalau semakin banyak orang berlangganan layanan video streaming saat ini. Sehingga kehadiran DVD maupun Blu-ray secara fisik tidak terlalu ditunggu-tunggu.

Hal yang sama juga berlaku pada industri game. Sebuah perusahaan layanan server internet telah menggantikan penyimpanan hardisk di perangkat.

Ketika gamer menghubungkan akun gaming-nya, maka perusahaan layanan server game itu akan menjalankan pengaturan game sesuai dengan akun tersebut.

Mekanisme tersebut tentu tidak membutuhkan perangkat dengan biaya mahal. Seorang gamer hanya perlu memiliki ponsel, Android TV, atau komputer desktop biasa, untuk menjalankan akun cloud gaming.

Hal inilah yang membuat cloud gaming lebih murah. Sebab biasanya untuk menjalankan sebuah game yang rumit, seorang gamer membutuhkan perangkat mahal. Sekadar pengetahuan, laptop maupun PC gaming harganya bisa mencapai puluhan juta.

cloud gaming

Saat ini penyedia jasa cloud gaming sudah tumbuh. Penetrasinya bisa jadi dimulai ketika raksasa Google melirik industri ini dengan Google Stadia. Yang lain pun tak ketinggalan, seperti Playstation Now, GeForce Now, Shadow, Project xCloud, dan Vortex.

Untuk memiliki akun di cloud gaming, seorang gamer hanya perlu berlangganan game di Steam, Epic Games Store, maupun berhubungan langsung dengan pengembangnya.

Gamer tersebut kemudian diberikan software installer untuk memasangnya di komputer. Software ini tak memakan space besar. Sebab ia selayaknya browser saja.

Kelemahan Cloud Gaming

Tiada gading yang tidak retak. Hal ini pun terjadi pada cloud gaming. Dengan berbagai kelebihannya, mekanisme bermain game ini memiliki sisi lemah.

Salah satu kelemahannya tentu saja persoalan koneksi internet. Satu hal yang menjadi persoalan untuk negara berkembang bertumbuh seperti Indonesia.

Untuk menjalankan streaming game, sebuah perangkat mesti memiliki koneksi paling tidak 20Mbps untuk menjalankan sebuah game dengan resolusi 1080p dengan frame rate 60fps.

cloud gaming

Untuk menjalankan game dengan grafis 4K dan 60fps membutuhkan kecepatan koneksi 35Mbps. Setidaknya itulah yang direkomendasikan oleh Google Stadia.

Saat melakukan streaming game pada resolusi 4K, Stadia mencatat setidaknya dibutuhkan kuota sebanyak 25GB per jam.

Sementara itu kabarnya GeForce lebih besar lagi kebutuhannya pada pengaturan default. Meski bisa diatur untuk diturunkan, tetap saja besarnya kuota data yang dibutuhkan ini cukup mengkhawatirkan.

Masalah lain juga muncul berkenaan dengan latency atau respon koneksi yang lambat berkenaan dengan keberadaan router yang menjadi penghantar koneksi. Belum lagi kalau memang sinyal internet sedang tidak bagus.

Penutup

Meski begitu cloud gaming tetap menjadi pilihan yang lebih hemat dibandingkan dengan membeli game console apalagi membangun PC khusus game.

Sayangnya layanan cloud gaming ini belum masuk ke Indonesia secara resmi. Hal ini mengingat koneksi yang kembang-kempis di negara berpenduduk 270 juta jiwa ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here